Doa Rasulullah saat Madinah Tertimpa Wabah

Oleh: MB Setiawan

Doa Rasulullah saat Madinah Tertimpa Wabah

Dalam hadits yang lumayan panjang, ‘Aisyah menceritakan bahwa saat Rasulullah sampai ke Madinah, Abu Bakar dan Bilal bin Rabbah Radhiyallahu ‘anhuma mengalami sakit demam.

Menurut gambaran ‘Aisyah, waktu itu, setibanya di Madinah, kondisi wilayahnya paling banyak sekali wabah dan bencananya. Katanya, ada suatu lembah yang bernama Buththan mengalirkan air keruh yang mengandung kuman-kuman penyakit.

Bagaimana Abu Bakar dan Bilal menyikapi wabah demam ini? Kalau Abu Bakar, setiap kali merasakan demam, beliau menyenandungkan sya’ir. Demikian bait-baitnya:

كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ … وَالمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ
“Setiap orang pada pagi hari bersantai dengan keluarganya. Padahal kematian lebih dekat dari pada tali sandalnya.”

Lain halnya dengan Bilal, beliau melantunkan sya’ir setelah sembuh dari demam:

أَلاَ لَيْتَ شِعْرِي هَلْ أَبِيتَنَّ لَيْلَةً … بِوَادٍ وَحَوْلِي إِذْخِرٌ وَجَلِيلُ،
وَهَلْ أَرِدَنْ يَوْمًا مِيَاهَ مَجَنَّةٍ … وَهَلْ يَبْدُوَنْ لِي شَامَةٌ وَطَفِيلُ،
Wahai kiranya kesadaranku, dapatkah kiranya aku bermalam semalam.
Di sebuah lembah yang dikelilingi pohon idzkir dan jalil.
Apakah ada suatu hari nanti aku dapat mencapai air Majannah.
Dan apakah bukit Syamah dan Thufail akan tampak bagiku?”

Setelah itu, bilal berkata: “Ya Allah, laknatlah Syaibah bin Rabi’ah, ‘Uqbah bin Rabi’ah dan Umayyah bin Khalaf yang telah mengusir kami dari suatu negeri ke negeri yang penuh dengan wabah bencana ini.” Sebagai gambaran wajar yang ditunjukkan Bilal karena memang mereka terusir dari negerinya: Mekah.

Bagaimana dengan Rasulullah? Melihat kondisi Madinah yang sedang tertimpa wabah demam, beliau bermunajat melantunkan doa kepada Allah:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا المَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا وَفِي مُدِّنَا، وَصَحِّحْهَا لَنَا، وَانْقُلْ حُمَّاهَا إِلَى الجُحْفَةِ

“Ya Allah, jadikanlah Madinah sebagai kota yang kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah atau bahkan lebih dari itu. Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami dalam timbangan sha’ dan mud kami dan sehatkanlah (makmurkan) Madinah buat kami dan pindahkanlah wabah demamnya ke Juhfah.”

Jadi, ketika mendiami suatu negeri yang terdampak wabah, Nabi Muhammad juga mengupayakan doa kepada Allah agar segera diangkat oleh Allah Ta’ala.

Dalam buku “Fath Al-Bary”, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menceritakan bahwa pada zamannya ada yang menyangsikan hadits ini. Pasalnya, apa bisa menghadapi wabah dengan doa. Terlebih, wabah dan dampak buruk yang diakibatkannya sudah menjadi ketetapan Allah, lalu mengapa Nabi berdoa?

Dengan lugas Ibnu Hajar memberi catatan bahwa doa itu termasuk bagian dari usaha. Karena –menurut beberapa riwayat– doa ternyata bisa untuk memperpanjang umur dan mengangkat sakit.

Sebab, Nabi juga pernah berdoa demikian, “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kusta, gila, lepra, dan dari penyakit yang buruk.” Kalau memang doa tidak ada gunanya, mengapa beliau doa demikian? Jadi, doa bisa dijadikan obat.
Malah kata beliau, pengobatan dengan doa memiliki kelebihan dibanding dengan obat-obat lainnya. Karena, di dalamnya mengandung ketundukan kepada Allah Ta’ala. Umat Islam juga meyakini bahwa penyakit datang atas takdir Allah Ta’ala.
Doa yang dilarang adalah yang sekadar doa dan pasrah tidak ada usaha sama sekali. Bergantung pada takdir Allah, tanpa usaha. Beliau memberi analogi menarik antara fungsi doa dalam menolak wabah. Bagaikan orang dalam perang yang melindungi diri dengan perisa agar tidak terkena panah. Syarat iman kepada takdir, bukan berarti tidak melindungi diri dari panah.

Hadits tadi dan keterangan dari Ibnu Hajar Rahimahullah menunjukkan bahwa doa adalah bagian dari proteksi diri dari wabah. Imam Bukhari, saat menyebutkan hadits itu, beliau memberi judul demikian: “Bab Tentang Orang yang Berdoa untuk Menghilangkan Wabah dan Demam.” Artinya, di sini –dalam pandangan Islam– doa juga memiliki pengaruh.

Meski demikian, yang menarik adalah di samping doa, tidak menutup usaha-usaha lain untuk mengobati dari wabah penyakit. Selain itu, bila melihat sikap Abu Bakar dan Bilal, ketika tertimpa wabah, mereka dengan tegar menhadapinya, tidak putus asa, dan tak terlihat sikap-sikap negatif dalam menghadapinya. Al-Hamdulillah, pada akhirnya mereka bisa melewati masa-masa sulit itu, dan Allah anugerahkan kesembuhan bagi mereka. (Aza)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *